Welcome, dear fellows!

Welcome!
Feel free to surf the highlighted knowledge of biology.Wish you bunch of luck.
:)

Translate

Sunday, 5 July 2015

Menjawab Argumen - Argumen Penentang Vaksinasi



Saat ini beredar berbagai pertanyaan dan keraguan terkait keamanan kehalalan vaksin di masyarakat. Untuk menjawab semua itu, Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) dr. Soedjatmiko, Sp.A (K) akan menjawabnya lewat tanya jawab sebagai berikut:


Benarkah imunisasi aman untuk bayi dan balita?

Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di  negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% .
Mengapa ada “ilmuwan” menyatakan bahwa imunisasi berbahaya ?
Tidak benar imunisasi berbahaya.Ilmuwan” yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno.
Benarkah “ilmuwan  kuno” yang sering dikutip buku,  tabloid, milis, ternyata  bukan ahli vaksin ?
Benar, mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog),  Dr. William Hay (kolumnis),  Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter,  PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller,  (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950) , Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum)  Dr. WB Clarke (ahli  kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959).
Benarkah dokter Wakefield “ahli vaksin”, membuktikan  MMR menyebabkan autisme ?
Tidak benar.  Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia  dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011.
Benarkah di semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?
Tidak benar. Isu itu karena “ilmuwan” tersebut di atas  tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar  2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.
Benarkah isu bahwa “semua zat kimia”  berbahaya bagi bayi ?
Tidak benar. Isu itu beredar karena penulis buku, tabloid, milis, tidak pernah belajar ilmu kimia. Oksigen, air, nasi, buah, sayur, jahe, kunyit, lengkuas, semua tersusun dari zat-zat kimia. Buktinya oksigen rumus kimianya O2, air H2O, garam NaCl. Buah dan sayur terdiri atas serat selulosa, fruktosa, vitamin, mineral, dll. Telur terdiri dari protein, asam amino, mineral. Itu semua zat kimia, karena ada rumus kimianya. Jadi zat-zat kimia umumnya  justru sangat dibutuhkan untuk manusia asal bukan zat yang berbahaya atau dalam takaran yang aman.
Benarkah vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi,  manusia yang sengaja digugurkan?
Tidak benar. Isu itu bersumber dari “ilmuwan”  50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Teknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia.

Benarkah vaksin mengandung lemak babi ?
Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit  vaksin tertentu 15 – 20 tahun lalu,  ketika panen bibit vaksin tersebut  bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis)  haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.
Benarkah vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?
Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah  buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir.    
Benarkah program  imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin  agar menjadi bangsa yang lemah?
Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju  dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim.   Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan  lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak.  Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.

Benarkah isu di buku, tabloid dan milis bahwa di Amerika banyak kematian bayi  akibat vaksin ?
Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan  kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 – 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada  38.787 laporan dari 4,5 juta bayi  berarti KIPI hanya 0,9 %.
Benarkah isu bahwa banyak bayi balita meninggal  pada imunisasi masal campak di Indonesia ?
Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.

Demam, bengkak, merah setelah imunisasi membuktikan bahwa vaksin berbahaya?
Tidak berbahaya. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat.

Benarkah vaksin Program Imunisasi  di Indonesia juga dipakai oleh 36 negara Muslim?
Benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah  buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh  120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.
Benarkah  isu  di tabloid, milis, bahwa  program imunisasi gagal?
Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50  – 150 tahun  lalu) hanya dari 1 – 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda  dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda.
Contoh :
-          Isu vaksin cacar variola gagal,  berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 – 1880 dan Jepang tahun 1872-1892.  Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980  dunia bebas cacar variola.
-          Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %.
-          Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986
-          Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika
Benarkah program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?
Tidak benar program imunisasi gagalPerlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Bayi  balita yang belum diimunisasi lengkap bila tertular penyakit tersebut bisa sakit berat, cacat atau meninggal.

Benarkah imunisasi  bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi dan balita?
Benar.  Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna.  Oleh karena itu saat  ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.  Semua negara berusaha meningkatkan cakupan agar lebih dari 90 %. Di Indonesia, setelah wabah polio 2005-2006 karena banyak bayi yang tidak diimunisasi polio, maka  menyebabkan 305 anak lumpuh permanen. Setelah digencarkan imunisasi polio, sampai saat ini tidak ada lagi kasus polio baru.
Mengapa di  Indonesia ada buku, tabloid, milis, yang menyebarkan isu bahwa vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?
Karena di Indonesia ada orang-orang  yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari “ilmuwan” tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 – 40 tahun lalu (1970 – 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah alias bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 – 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa.
Bagaimana orangtua harus bersikap terhadap isu-isu tersebut?
Sebaiknya semua bayi dan balita diimunisasi secara lengkap. Saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada  bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %.
Badan penelitian di berbagai negara membuktikan kalau semakin banyak bayi balita tidak diimunisasi akan terjadi wabah, sakit berat, cacat atau mati. Hal ini telah terbukti di Indonesia, di mana wabah polio merebak pada tahun 2005-2006 (305 anak lumpuh permanen), wabah campak 2009 – 2010 (5.818 anak dirawat di RS, meninggal 16), dan wabah difteri 2010-2011 (816 anak di rawat di RS, 56 meninggal).
Bisakah  ASI, gizi, dan suplemen herbal menggantikan imunisasi ?
Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau  jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati.
Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.
Bolehkah selain diberikan imunisasi, ditambah dengan suplemen gizi dan herbal?
Boleh. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan,  dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.
Benarkah bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap rawan tertular penyakit berbahaya ? 
Benar. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.

Benarkah wabah akan terjadi bila banyak bayi dan balita tidak diimunisasi  ?
Benar. Itu sudah terbukti di beberapa negara Asia, Afrika dan di Indonesia.
Contoh: wabah polio 2005-2006 di Sukabumi karena banyak bayi balita tidak diimunisasi polio, dalam hitungan beberapa bulan, virus polio menyebar cepat ke Banten, Lampung, Madura, menyebabkan 305 anak lumpuh permanen.
Wabah campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat  2010-2011 mengakibatkan  5.818 anak dirawat di rumah sakit dan 16 anak di antaranya meninggal dunia.
Wabah difteri dari Jawa Timur 2009 – 2011 menyebar ke Kalimantan Timur, Selatan, Tengah, Barat, DKI Jakarta, menyebabkan 816 anak harus di rawat di rumah sakit, 54 meninggal.
Tentang Penulis
 *dr. Soedjatmiko, Sp.A (K) merupakan,
  1. Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia 2002-2008
  2. Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI).
  3. Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang - Pediatri  Sosial, Magister Sains Psikologi Perkembangan.

Vaksinasi



Pengertian Vaksinasi

Vaksinasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut. Kata vaksinasi berasal dari bahasa Latin vacca yang berarti sapi. Diistilahkan demikian karena vaksin pertama berasal dari virus yang menginfeksi sapi (cacar sapi).

Perbedaan Vaksinasi dan Imunisasi

Istilah vaksinasi dan imunisasi mungkin akrab di telinga kita. Sejak SD kita mengenal istilah ini sebagai kegiatan yang berhubungan dengan kekebalan penyakit, namun ternyata banyak yang belum paham perbedaan antar keduanya, sebagian orang malah beranggapan kedua istilah ini memiliki pengertian yang sama. Benarkah?
Dalam Bahasa Indonesia, penggunaan akhiran -isasi bermakna proses, sehingga kata vaksinasi maupun imunisasi menunjukkan suatu proses atau kegiatan.
·           Vaksin adalah bakteri dan virus yang telah dilemahkan.
Jadi vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke tubuh manusia dengan tujuan untuk mendapatkan efek kekebalan terhadap penyakit tertentu.
·           Imun merupakan istilah lain dari kekebalan tubuh.
Jadi imunisasi adalah proses untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.
Dari pengertian tersebut bisa diketahui bahwa imunisasi merupakan istilah yang lebih umum untuk proses kekebalan tubuh, sedangkan vaksinasi adalah proses imunisasi yang khusus menggunakan vaksin saja. Artinya vaksinasi sudah adalah bagian dari imunisasi sedangkan imunisasi belum tentu merupakan vaksinasi.
Ada proses lain yang bisa memberikan imunitas. Sebagai contoh memberi ASI dan pemberian serum atau antibodi (antibodi).

Manfaat Vaksinasi

·         Manfaat untuk anak

Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian.

·         Manfaat untuk keluarga

Menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit. Mendorong keluarga kecil apabila si orang tua yakin bahwa anak-anak akan menjalani masa anak-anak dengan aman.

·         Manfaat untuk orang tua

Yang disebut orang tua adalah mereka yang berusia di atas 55 tahun dimana kekebalan tubuhnya mulai menurun. Jadwal vaksinasi dewasa dapat dimajukan, misalnya menjadi 40 tahun, jika orang tua tersebut menderita diabetes atau penyakit lainnya yang menyebabkan kekebalan tubuhnya menurun.

·         Manfaat untuk negara

Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal sehat untuk melanjutkan pembangunan negara.

·         Manfaat untuk orang sekitar

Di lingkungan yang mayoritas telah diimunisasi, maka mereka yang belum diimunisasi biasanya juga terhindar dari penyakit yang sehubungan dengan imunisasi tersebut, karena memang di lingkungan tersebut tidak ada orang yang terjangkit penyakit tersebut. Oleh karena itu eradikasi atau menghilangkan sesuatu penyakit dari lingkungan tersebut, misalnya Polio dilakukan tidak perlu mencapai 100 persen, jika yang diimunisasi telah mencapai 90 persen, maka telah dianggap berhasil.

Cara Vaksinasi

Vaksinasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, ada yang diberikan secara suntikan ke otot (intramuscular), lapisan bawah kulit (subkutan) maupun ada yang diberikan melalui tetesan cairan ke mulut (misalnya vaksin polio dan kolera).

Jadwal Vaksinasi Balita

Kelima vaksin di bawah ini tersedia gratis di Posyandu.
http://www.ibudanmama.com/wp-content/uploads/2014/06/tabel-imunisasi-wajib.jpg
http://www.ichrc.org/sites/default/files/tabel%2041.png
Jenis-Jenis Vaksin dan Penyakit yang Diatasi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSAGLambsqGe_DhOYYB20lT-KdAO654-DYytCwlr31dtNsgF69ZaguHl1URsfQ49UgUZB_HsF3-ll53h8EuyscvhLakM8GWTKayC-yOcVjUeH1XRVRWohlJv-dfPy6D-dulILYX2mdY8t1/s1600/Jenis+Vaksin+Imunisasi.png

Kejadian – Kejadian Luar Biasa Akibat Tidak Divaksinasi

Berita 1:

MENKES TURUN KE SUMBAR : KLB Difteri Sudah Mengkhawatirkan

24 Februari 2015.
PADANG — Yose dan Yuke — Guna mengantisipasi penyebaran difteri di Sumbar, Menteri Kesehatan, Nila Djuwita Moeloek minta anak-anak di provinsi ini disuntik imunisasi sampai tiga kali. Menteri tak mau korban berjatuhan. “Setidaknya, harus tiga kali imunisasi. Nanti satu bulan lagi suntik sekali lagi. Enam bulan lagi suntik lagi. Jadi tiga ini harus,” ujarnya saat melakukan kunjungan ke Padang, Jumat (20/2) kemarin.
Pesan itu disampaikan Nila terkait dengan difteri yang terjadi di Padang beberapa waktu lalu dan saat ini mulai menyeberang ke Kota Solok. Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengimbau agar Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota untuk gencar melakukan imunasasi kepada anak yang rentan terkena penyakit menular ini. Menkes meminta, imunisasi ini agar disebarluaskan ke masyarakat bilamana anaknya disuntik yang pertama dilanjutkan kedua dan ketiga. “Kalau ini tidak dilakukan kita bisa rugi. Pertama kerugian anak tetap sakit, kedua obat mubazir. Iya kalau selamat anak ini tak apa, tapi kalau terjadi sesuatu saya kira itu yang tidak kita inginkan.” Ia melanjutkan, langkah ini dimaksudkan menghindari anak-anak terinfeksi difteri. Karena satu terkena akan bisa mengkontaminasi banyak anak lainnya. “Meski anak-anak kita tidak terinfeksi saat ini, bisa saja menular dari anak-anak yang lain,”tegasnya.
Menkes meminta masyarakat yang mendapat imunisasi dingingatkan kembali untuk kembali ke posyandu atau ke tempat diberikan imunisasi kedua dan ketiga. Sementara itu, Direktur Utama RSUP M Djamil, Ira Yanti di sela kunjungan Kemenkes mengatakan, dari data RSUP M Djamil Januari sampai Februari yang positif difteri 4 orang. Sedangkan yang masih dirawat ada 16 orang. “Total suspec difteri mencapai 24 orang, sedangkan yang masih dirawat ada 16, jadi 8 orang sudah pulang,” terangnya. Hingga 19 Februari 2015 sebanyak 136.358 anak-anak berusia 2 bulan hingga 15 tahun yang telah diberi imunisasi vaksin Difteri Pertusis Tetanus (DPT) dan vitamin A oleh Dinas Kesehatan Kota (DKK) Padang. Ditargetkan seluruh target pemberian imunisasi tuntas pada Maret nanti.
Pemberian imunisasi merupakan bentuk pencegahan terhadap penyebaran bakteri Corynebacterium yang bisa menyebabkan penyakit difteri. Berdasarkan data terakhir, 136.358 anak sudah diimunisasi, artinya sudah 54% dari seluruh target yang berjumlah lebih kurang 240.000 anak.


Berita 2:

Tetapkan Jawa Timur Sebagai KLB Difteri




Berita 3:

KLB CAMPAK DI KABUPATEN KEPULAUAN ARU, PROVINSI MALUKU

27 September 2014
Pada akhir Bulan Agustus 2014 terjadi KLB Campak  di 3kecamatan di Kabupaten Kepulauan Aru yaitu Kecamatan Pulau-Pulau Aru yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Dobo, Kecamatan Aru Selatan yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Popjetur dan Kecamatan Aru Selatan Utara yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tabarfane.
Kasus campak di wilyah kerja Puskesmas Dobo kecamatan Pulau-Pulau Aru telah mengalami peningkatan selama 3  minggu berturut-turut sejak tanggal 19 Agustus s.d. 5 September 2014mencapai 73 kasus, kasus campak di wilayah kerja Puskesmas Tabarfane Kecamatan Aru Selatan Utara bulan Agustus – September 2014 mencapai 19 kasus dan 1 kasus lagi ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Popjetur Kecamatan Aru Selatan.
Rendahnya cakupan imunisasi Campak di Kabupaten Aru Provinsi Maluku pada 2 tahun terakhir (67% di tahun 2012 dan 68% di tahun 2013)merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya Kejdian Luar Biasa (KLB) Campak di Kabupaten tersebut. Kurangnya akses ke pelayanan kesehatan akibat kondisi geografis dan jarak yang jauh, status gizi balita yang buruk serta kebersihan lingkungan yang kurang juga menjadi penyebab terjadinya KLB Campak.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Aru melakukan upaya-upaya penanggulangan KLB Campak berupa penyelidikan epidemiologi, investigasi kasus, penatalaksanaan kasus campak, merujuk pasien campak dengan bronkopnemonia ke RSUD Cendrawasih Dobo,  pemberian vitamin A, menempatkan petugas kesehatan di wilayah KLB, melakukan upaya promosi kesehatan dengan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), monitoring kasus-kasus baru dan meningkatkan sistem kewaspadaan dini.
Sampai dengan saat ini permasalahan kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat.

Sunday, 28 June 2015

Let us learn about Teratology!

Basic Information
" Teratologi merupakan cabang dari ilmu embriologi yang khusus mempelajari tentang akibat, mekanisme dan manifestasi embrionik yang cacat (abnormal) atau anomali pertumbuhan dan perkembangan manusia."
  • Pengetahuan masyarakat tentang pengaruh teratogen terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin masih sangat terbatas, dikarenakan masyarakat belum memahami dampak dari faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin di masa embrio, salah satunya kelainan bawaan pada kelebihan pertumbuhan jari tangan atau Polydactyly.
Mengenal Teratologi
  • Teratologi adalah bidang ilmu yang mempelajari anomali pertumbuhan dan perkembangan tentang pertumbuhan struktural yang abnormal luar biasa. Oleh pertumbuhan abnormal luar biasa itu lahir bayi atau digugurkan janin yang cacat. Bayi yang lahir cacat hebat itu disebut monster, misalkan kembar dempet yang pertautannya parah sekali disebut monster duplex. 
  • Pada orang setiap 50 kelahiran hidup rata-rata 1 yang cacat, sedangkan yang digugurkan perbandingan itu jauh lebih tinggi. Perbandingan bervariasi sesuai dengan jenis cacat, contohnya:
    Jenis Cacat
    Frekuensi
    Lobang antara vantrium
    1:5
    Cryptorchidisme
    1:300
    Sumbing dan langit-langit celah
    1:1.000
    Albino
    1:20.000
    Hemophilia
    1:50.000
    Tak ada anggota
    1:500.000
    Melihat kepada bagian tubuh yang kena, persentage keseringan cacat ialah:
    • SSP (susunan saraf pusat) 60%
    • Saluran pencernaan 15%
    • Kardiovaskular 10%
    • Otot dan kulit 10%
    • Alat lain 5%
  • Cacat yang sering juga ditemukan ialah seperti: sirenomelus (anggota sepertikan ikan duyun, anggota belakang tidak ada dan anggota depan pendek), phocomelia (anggota seperti anjing laut, tangan dan kaki seperti sirip untuk mendayung), polydactyly (berjari 6), sindactyly (berjari 4) jari buntung, tak berjari kaki dan tangan, ada ekor, dwarfisme (kerdil), cretinisme (cebol), dan gigantisme (raksasa).
  • Kejadian cacat ini terjadi karena beberapa hal, diantaranya sebagai berikut:
  1. Gangguan pertumbuhan kuncup suatu alat (agenesis)
  2. Terhenti pertumbuhan di tengah jalan
  3. Kelebihan pertumbuhan
  4. Salah arah differensiasi
  • Agenesis atau terganggunya pertumbuhan suatu kuncup alat, menyebabkan adanya janin yang tak berginjal, tak ada anggota, tak ada pigment (albino), dan sebagainya. Kalau pertumbuhan terhenti di tengah jalan, terjadi janin cacat seperti sumbing atau dengan langit-langit celah, uterus duplex, dwarfisme, hernia. Kalau kelebihan pertumbuhan contohnya gigantisme, polydactyly, dan kembar. Sedangkan yang salah arah differensiasi menimbulkan tumor, achondroplasia, mongolisme, teratoma, dan lain-lain.
  • Secara natural cacat itu sulit dipastikan apa penyebabnya yang khusus. Mungkin sekali gabungan atau kerja sama berbagai faktor genetis dan lingkungan. Secara experimentil dapat dibuat cacat, dengan mempergunakan salah satu teratogen (penyebab teratogenesis) dan mengontrol faktor yang lainnya. Teratogen bekerja melalui beberapa proses yaitu sebagai berikut:
  1. Mengubah kecepatan proliferasi sel
  2. Menghalangi sintesa enzim
  3. Mengubah permukaan sel sehingga agregasi tak benar.
  4. Mengubah matrikx, yang mengganggu perpindahan sel-sel
  5. Merusak organizer atau daya kompotensi sel berspons
Faktor Teratogen

Faktor yang menyebabkan cacat ada 3 kelompok yaitu:
  1. Faktor genetis
a. Mutasi, yakni perubahan pada susunan nukleotida gen (ADN). Mutasi menimbulkan alel cacat, yang mungkin dominan, kodominan atau resesif. Ada alel cacat itu yang rangkai kelamin artinya diturunkan bersama-sama dengan karakter jenis kelamin. Contoh cacat karena mutasi: polydactyly, syndactyly, hemophilia, muscular dystrophy, dan albino.
b. Aberasi, yakni perubahan pada susunan kromosom. Ada perubahan pada ploidy, yakni dari diploid menjadi triploid, tetrapolid dan seterusnya. Pada manusia tak dikenal susunan kromosomganda begini. Ada pula perubahan pada jumlah salah satu kromosom, seperti dari 2N menjadi 2N-1, 2N+1, 2N-2, 2N+2, dan seterusnya. Contoh CACAT kareba aberasi pada manusia: berbagai macam penyakit turunan sindroma, seperti Sindroma Down, Turner, Patau, Klinefelter, dan Edward. Banyak diantara CACAT ini yang demikian parah, sehingga dapat bertahan hidup beberapa hari estela lahir.

  1. Faktor fisik pada rahim
Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga merupakan pelindung terhadap cedera. Jumlah cairan ketuban yang abnormal bisa menyebabkan atau menunjukkan adanya kelainan bawaan. Cairan ketuban yang terlalu sedikit bisa mempengaruhi pertumbuhan paru-paru dan anggota gerak tubuh atau bisa menunjukkan adanya kelainan ginjal yang memperlambat proses pembentukan air kemih. Penimbunan cairan ketuban terjadi jika janin mengalami gangguan menelan, yang bisa disebabkan oleh kelainan otak yang berat (misalnya anensefalus atau atresia esofagus).

  1. Faktor lingkungan
  a. Infeksi pada ibu hamil juga bisa merupakan teratogen. Beberapa infeksi selama kehamilan yang dapat menyebabkan sejumlah kelainan bawaan:
    1. Sindroma rubella kongenital ditandai dengan gangguan penglihatan atau pendengaran, kelainan jantung, keterbelakangan mental dan cerebral palsy.
    2. Infeksi toksoplasmosis pada ibu hamil bisa menyebabkan infeksi mata yang bisa berakibat fatal, gangguan pendengaran, ketidakmampuan belajar, pembesaran hati atau limpa, keterbelakangan mental dan cerebral palsy.
    3. Infeksi virus herpes genitalis pada ibu hamil, jika ditularkan kepada bayinya sebelum atau selama proses persalinan berlangsung, bisa menyebabkan kerusakan otak, cerebral palsy, gangguan penglihatan atau pendengaran serta kematian bayi.
    4. Penyakit ke-5 bisa menyebabkan sejenis anemia yang berbahaya, gagal jantung dan kematian janin
    5. Sindroma varicella kongenital disebabkan oleh cacar air dan bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada otot dan tulang, kelainan bentuk dan kelumpuhan pada anggota gerak, kepala yang berukuran lebih kecil dari normal, kebutaan, kejang dan keterbelakangan mental.
  •  Radiasi obat tertentu dan racun merupakan teratogen. Secara umum, seorang wanita hamil sebaiknya:
a. Mengkonsultasikan dengan dokternya setiap obat yang dia minum
b. Berhenti merokok
c. Tidak mengkonsumsi alkohol
d. Tidak menjalani pemeriksaan rontgen kecuali jika sangat mendesak.

Gizi:
  • Menjaga kesehatan janin tidak hanya dilakukan dengan menghindari teratogen, tetapi juga dengan mengkonsumsi gizi yang baik. Salah satu zat yang penting untuk pertumbuhan janin adalah asam folat. Kekurangan asam folat bisa meningkatkan resiko terjadinya spina bifidatabung saraf lainnya. Karena spina bifida bisa terjadi sebelum seorang wanita menyadari bahwa dia hamil, maka setiap wanita usia subur sebaiknya mengkonsumsi asam folat minimal sebanyak 400 mikrogram/hari. Ibu yang hamil harus menjaga dari difiensi vitamin atau hormon, hal ini apabila tidak dapat diperhatikan dengan baik dapat menimbulkan cacat pada janin yang sedang dikandung.
Defisiensi
Cacat
Vitamin A
Mata
Vitamin B comp. C,D
Tulang/rangka
Tiroxin
cretinisme
Somatotropin
Dwarfisme
  • Radiasi sinar-X
Ibu hamil yang diradiasi sinar-X (untuk terapi atau diagnosa), ada yangh melahirkan bayi cacat pada otak. Mineral radioaktif tanah sekeliling berhubungan erat dengan lahir cacat bayi di daerah bersangkutan.
  • Emosi
Sumbing dan langit-langit celah, kalau terjadi pada minggu ke-7 sampai 10 kehamilan orang, dapat disebabkan emosi ibu. Emosi itu mungkin lewat sistem hormon. Stres psikis ibu membuat cortex adrenal hyperactive, sehingga penggetahan hydrocortisone tinggi.
Cacat lahir atau bawaan
  •  Cacat lahir sering juga disebut malformasi kongenital atau anomali kongenital adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan kelainan struktur, perilaku, faal, dan kelainan metabolik yang ditemukan pada waktu lahir. Ilmu pengetahuan yang mempelajari sebab-sebab dan mekanisme terjadinya kelainan ini adalah Teratology.
  • Secara umum penyebab cacat fisik pada janin cukup beragam yang sebagian dapat kita cegah misalkan sbb:
  •  Rokok, alkohol, narkotika
    • Beberapa zat berbahaya seperti rokok, alkohol atau narkotika dipastikan bisa berdampak tidak baik bagi janin. Berbagai penelitian menunjukkan, rokok dan alkohol bisa mengakibatkan keguguran, bayi lahir dengan berat lahir rendah, lahir prematur, cacat, maupun lahir dalam keadaan sudah tak bernyawa. Yang sering terabaikan adalah ibu sebagai perokok pasif. Oleh karenanya rumah maupun kantor ibu juga harus bebas dari asap rokok.
  • Obat-obatan
    • Mengonsumsi obat-obatan juga tidak boleh sembarangan karena kandungannya mungkin saja membahayakan kehamilan. Beberapa jenis obat dan jejamuan yang diminum wanita hamil pada trimester pertama kehamilan diduga sangat erat hubungannya dengan terjadinya kelainan kongenital pada janin. Inilah alas an mengapa selama kehamilan, khususnya trimester pertama, ibu hamil amat dianjurkan untuk menghindari pemakaian obat-obatan tanpa berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter kebidanan dan kandungan yang menanganinya.
  • Faktor usia
    • Semakin tua usia ibu hamil, semakin banyak komplikasi penyakit yang mungkin diderita. Di antaranya semakin tinggi risiko melahirkan bayi dengan Down Syndrome (DS).
  • Faktor hormonal
    • Faktor hormonal diduga memiliki keterkaitan dengan kejadian kelainan kongenital. Bayi yang dilahirkan oleh ibu hipotiroid maupun ibu penderita diabetes melitus lebih besar peluangnya mengalami gangguan pertumbuhan dibandingkan bayi yang dilahirkan oleh ibu tanpa gangguan hormonal.
  • Faktor gizi
    • Pada hewan percobaan, kekurangan gizi berat dalam masa kehamilan dapat menimbulkan kelainan kongenital. Pada manusia, penelitian menunjukkan bahwa frekuensi kelainan kongenital pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kekurangan zat-zat tertentu lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dari ibu yang status gizinya baik. Kekurangan asam folat dan seng/zinc, contohnya, akan menyebabkan bibir bayi sumbing.
  • Paparan zat kimia dan radiasi
    • Makanan atau apa saja yang masuk ke tubuh seorang ibu hamil akan menemukan jalan menuju janin yang sedang tumbuh dalam kandungan. Dengan demikian harus diperhatikan zat-zat kimia pada makanan dan lainnya yang dapat mengancam kehamilan. Hindari mengonsumsi atau menggunakan bahan-bahan yang memungkinkan ibu terpapar bahan-bahan kimia seperti obat makanan (daging, ikan, sayur, buah dalam kaleng dengan pengawet dan pewarna), antihama/insektisida, cat rambut, make up wajah dengan merkuri dan timbal, uap pernis dan cat.
  • Faktor infeksi
    • Infeksi yang terjadi terutama pada trimester pertama disamping dapat menimbulkan kelainan kongenital dapat pula meningkatkan risiko keguguran. Contohnya, infeksi virus rubella dapat menyebabkan bayi menderita katarak, mengalami kelainan pada sistem pendengaran, dan kelainan jantung bawaan. Beberapa infeksi lain yang dapat menimbulkan kelainan kongenital antara lain infeksi virus sitomegalovirus dan toksoplasmosis. Jika sampai mengganggu pertumbuhan pada sistem saraf pusat maka dapat menyebabkan hidrosefalus (lingkar kepala membesar akibat timbunan cairan) atau mikrosefalus (lingkar kepala terlalu kecil atau dikenal dengan istilah mikroftalmia).
  • Kelainan genetik/kromosom
    • Kelainan genetik pada ayah atau ibu kemungkinan besar akan memberi kontribusi yang tidak kecil pada kelainan kongenital anak mereka. Kemajuan teknologi kedokteran memungkinkan pemeriksaan adanya kelainan kromosom selagi masih berbentuk janin. Contohnya, kelainan kromosom trisomi 21 yang terwujud sebagai sindroma Down (mongolism) ataupun kelainan pada kromosom kelamin yakni sindroma Turner.
  • Radiasi
    • Paparan radiasi sinar X dan radiasi nuklir terutama pada awal kehamilan diduga kuat dapat menimbulkan kelainan kongenital. Adanya riwayat radiasi yang cukup besar dikhawatirkan akan mengakibatkan mutasi pada gen dan menyebabkan kelainan. Itulah mengapa radiasi untuk keperluan diagnostik atau pengobatan sekalipun sebaiknya dihindari semasa kehamilan, khususnya kehamilan trimester pertama.
  • Faktor-faktor lain
    • Banyak kelainan kongenital yang tidak diketahui penyebabnya. Kondisi janin dan faktor lingkungan hidup dalam rahim juga diduga dapat menjadi faktor penyebab. Di antaranya masalah hipoksia, hipotermia, ataupun hipertermia. Ada kalanya suatu kelainan kongenital belum terlihat pada waktu lahir, dan baru ditemukan beberapa waktu kemudian. Bila ditemukan dua atau lebih kelainan kongenital minor, sangat mungkin akan ditemukan kelainan kongenital mayor di tempat lain. Angka kejadian kelainan kongenital berkisar 15 per 1.000 kelahiran.
Cara mencegah cacat fisik pada janin:
Selain berusaha menghindari berbagai faktor penyebab, ada baiknya calon ibu juga melakukan langkah pencegahan ini:
a. Mengonsumsi asam folat
  • Kekurangan suplementasi asam folat bisa menyebabkan kelainan tabung saraf (neural tube defects) pada bayi. Karena itu, sebaiknya asam folat dikonsumsi beberapa bulan sebelum kehamilan. Namun tidak terlambat juga jika suplemen baru dikonsumsi di minggu-minggu pertama kehamilan. Asam folat alami bisa didapat dari sayuran berwarna hijau tua, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Namun berhubung kebutuhan pada masa kehamilan cukup tinggi, ibu dianjurkan menelan suplemen asam folat setiap hari.
b. Konseling genetik
  • Bila silsilah keluarga memper-lihatkan ada keluarga langsung yang memiliki riwayat kehamilan dengan kelainan kongenital sebaiknya segera lakukan konseling genetik sebelum merencanakan kehamilan. Ingat, kecacatan bisa diturunkan secara genetik.
c. Pola hidup sehat
  • Upayakan untuk menerapkan pola hidup sehat. Hentikan merokok dan hindari asap rokok maupun zat-zat berbahaya lainnya demi tumbuh-kembang janin. Konsumsilah hanya makanan yang betul-betul sehat. Hindari daging merah mentah atau setengah matang, seperti sate, steik, dan sejenisnya karena kuman penyakit bisa saja masih hidup di dalamnya. Jika ibu suka lalap mentah, cucilah dulu hingga bersih dengan air mengalir. Menu sushi atau sashimi tidak dilarang tetapi harus terjamin kesegaran dan kebersihannya.
d. Tidak sembarangan minum obat
  • Konsultasikan dengan dokter bila membutuhkan terapi obat-obatan.
e. Jalani pengobatan
  • Bila terdeteksi ada toksoplasma atau lainnya, segera jalani pengobatan semestinya secara tuntas agar kehamilan berjalan lancar dan bayi terlahir sehat serta sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Volpe JJ. Neurology of th Newborn, 2nd ed., Philadelphia: WB Saunders Company, 1987;hal.664-91.
Girwood RH. Clinical Pharmacology, 25thed., Londong: Bailliere Tindall, 1984; Hal. 561-5.
Avery GS. Drug Treatment, 2nd ed., Sydney, New York: Adis Press, 1980; hal. 65, 86-7.
American Medical Association, AMA Drug Evaluations, 5th ed., Philadelphia: WB Saunders Company, 1983;hal.31-42.
Osol. A. Remington's Pharmaceutical Sciences, Pennsylvania:Mack Publishing Co., 1980;hal. 1278.
Tropical Disease Research Foundation, Inc. Guidelines on Anti-microbial Therapy, 1st ed.,Manila, 1988;hal 88-9.
 

Let us learn about Embriology!



Basic Information
  • Reproduksi merupakan naluri setiap organisme untuk beranak-pinak guna memlihara daur kehidupan. 
  • Embriologi adalah studi mengenai embrio atau mudigah, yakni makhluk yang sedang dalam tingkat tumbuh dalam kandungan baik dalam tubuh induk (rahim) maupun luar tubuh induk (telur).
  • Organogenesis adalah perkembangan organ-organ anggota tubuh. Faktor penghambatnya bisa berupa faktor genetik, lingkungan dan faktor fisik pada rahim.
Fetus in the Womb

 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
  •  Tahap awal perkembangan manusia diawali dengan peristiwa pertemuan/ peleburan sel sperma dengan sel ovum yang dikenal dengan peristiwa Fertilisasi.
  •  Sel ovum dan sperma menyatu --> zigot --> pembelahan sel  (cleavage)--> embrio.
  •  Tahapan pertumbuhan & perkembangan embrio antara lain:
    1. Fase Embriogenik yaitu fase pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup selama masa embrio yang diawali dengan peristiwa fertilisasi sampai dengan terbentuknya janin di dalam tubuh induk betina.
    2. Fase Fertilisasi yaitu pertemuan antara sel sperma dengan sel ovum dan akan menghasilkan zigot. Zigot akan melakukan pembelahan sel (cleavage). 
  • Tahapan fase embrionik yaitu:
Tahap Fertilisasi sampai blastula

 Tahap gastrula sampai janin (fetus)
    1. Morula
      •  adalah suatu bentukan sel seperti bola (bulat) akibat pembelahan sel secara terus-menerus. Keberadaan antara satu dengan sel yang lain adalah rapat.
      • Morulasi yaitu proses terbentuknya morula.
    2. Blastula
      •  adalah bentukan lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan. 
      •  Bentuk ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan mengadakan pelekukan yang tidak beraturan.
      • Terdapat cairan sel yang disebut sebagai blastosol.
      • Blastulasi yaitu proses terbentuknya blastula.
    3.  Gastrula
      • adalah bentuk lanjutan dari blastula yang pelekukan tubuhnya semakin nyata dan sudah mempunyai lapisan dinding tubuh sembrio serta rongga tubuh.
      • Gastrula pada beberapa hewan tertentu beberda dalam hal jumlah lapisan dinding tubuh embrionya,
      • Triploblastik yaitu hewan yang mempunyai 3 lapisan dinding tubuh embrio, berupa ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Hal ini dimiliki oleh hewan tingkat tinggi seperti Vermes, Mollusca, Arthropoda, Echinodermata dan semua Vertebrata.
      •  Diploblastik merupakan hewan yang mempunyai 2 lapisan dinding tubuh embrio, berupa ektoderm dan endoderm. Dimiliki oleh hewan tingkat rendah seperti Porifera dan Coelenterata.
      • Gastrulasi yaitu proses terbentuknya gastrula.
 Organogenesis
  • Organogenesis adalah proses pembentukan organ-organ tubuh pada makhluk hidup (hewan dan manusia). 
  • Pembentukan lapisan dinding tubuh embrio pada fase gastrula, contohnya 
    • Lapisan Ektoderm akan berdiferensiasi menjadi cor (jantung), otak (sistem saraf), integumen (kulit), rambut dan alat indera.
    • Lapisan Mesoderm akan berdiferensiasi menjadi otot, rangka (tulang/osteon), alat reproduksi (testis dan ovarium), alat peredaran darah dan alat ekskresi seperti ren.
    • Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo.
  •  Imbas embrionik yaitu pengaruh dua lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk hidup. Contohnya lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi dalam pembentukan kelopak mata.
Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
  • Setelah peristiwa fertilisasi, zygote akan berkembang menjadi embrio yang sempurna dan embrio akan tertanam pada dinding uterus ibu. Hal ini terjadi masa 6 – 12 hari setelah proses fertilisasi. Sel-sel embrio yang sedang tumbuh mulai memproduksi hormon yang disebut dengan hCG atau human chorionic gonadotropin, yaitu bahan yang terdeteksi oleh kebanyakan tes kehamilan.
  • HCG membuat hormon keibuan untuk mengganggu siklus menstruasi normal, membuat proses kehamilan jadi berlanjut.
  • Janin akan mendapatkan nutrisi melalui plasenta/ari-ari. Embrio dilindungi oleh selaput-selaput yaitu :
    1. Amnion yaitu selaput yang berhubungan langsung dengan embrio dan menghasilkan cairan ketuban. Berfungsi untuk melindungi embrio dari guncangan.
    2.  Korion yaitu selaput yang terdapat diluar amnion dan membentuk jonjot yang menghubungkan dengan dinding utama uterus. Bagian dalamnya terdapat pembuluh darah.
    3. Alantois yaitu selaput terdapat di tali pusat dengan jaringan epithel menghilang dan pembuluh darah tetap. Berfungsi sebagai pengatur sirkulasi embrio dengan plasenta, mengangkut sari makanan dan O2, termasuk zat sisa dan CO2.
    4. Sacus vitelinus yaitu selaput yang terletak diantara plasenta dan amnion. Merupakan tempat munculnya pembuluhdarah yang pertama.
Tahapan perkembangan pada masa embrio 
 Tahapan perkembangan embrio

Human Canergie States
  1.  Bulan pertama : Sudah terbentuk organ-organ tubuh yang penting seperti jantung yang berbentuk pipa, sistem saraf pusat (otak yang berupa gumpalan darah) serta kulit. Embrio berukuran 0,6 cm.
  2. Bulan kedua: Tangan dan kaki sudah terbentuk, alat kelamin bagian dalam, tulang rawan (cartilago).Embrio berukuran 4 cm.
  3. Bulan ketiga: Seluruh organ tubuh sudah lengkap terbentuk, termasuk organ kelamin luar. Panjang embrio mencapai 7 cm dengan berat 20 gram.
  4. Bulan keempat: Sudah disebut dengan janin dan janin mulai bergerak aktif. Janin mencapai berat 100 gram dengan panjang 14 cm.
  5. Bulan kelima: Janin akan lebih aktif bergerak, dapat memberikan respon terhadap suara keras danmenendang. Alat kelamin janin sudah lebih nyata dan akan terlihat bila dilakukan USG (Ultra Sonographi).
  6. Bulan keenam: Janin sudah dapat bergerak lebih bebas dengan memutarkan badan (posisi)
  7. Bulan ketujuh: Janin bergerak dengan posisi kepala ke arah liang vagina.
  8. Bulan kedelapan : Janin semakin aktif bergerak dan menendang. Berat dan panjang janin semakin bertambah, seperti panjang 35-40 cm dan berat 2500 – 3000 gram.Bulan kesembilan : Posisi kepala janin sudah menghadap liang vagina. Bayi siap untuk dilahirkan.
  9. Bulan kesembilan : Posisi kepala janin sudah menghadap liang vagina. Bayi siap untuk dilahirkan.
Fase Pasca Embrionik
Fase Pasca Embrionik yaitu fase pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup setelah masa embrio, terutama penyempurnaan alat-alat reproduksi setelah dilahirkan. Pada fase ini pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi biasanya hanya peningkatan ukuran bagian-bagian tubuh dari makhluk hidup. Kecepatan pertumbuhan dari masing-masing makhluk hidup berbeda-beda satu dengan yang lain. Setelah lahir disebut dengan nama bayi dan memasuki masa neonatal. Fase ini memiliki beberapa tahap yaitu :
  •  Bayi dengan usia 1 – 12 bulan.
  •  Balita, dibagi lagi menjadi 2 yaitu batita dengan usia 1-3 tahun dan balita 3-5 tahun.
  •  Anak-anak dengan usia 6 – 12 tahun
  • Remaja dengan usia 13 – 17 tahun (Pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini disebut adolesens/akil balig).
  •  Dewasa dengan usia 18 – 50 tahun
  •  Manula dengan usia diatas 50 tahun

DAFTAR PUSTAKA
Volpe JJ. Neurology of th Newborn, 2nd ed., Philadelphia: WB Saunders Company, 1987;hal.664-91.
Girwood RH. Clinical Pharmacology, 25thed., Londong: Bailliere Tindall, 1984; Hal. 561-5.
Avery GS. Drug Treatment, 2nd ed., Sydney, New York: Adis Press, 1980; hal. 65, 86-7.
American Medical Association, AMA Drug Evaluations, 5th ed., Philadelphia: WB Saunders Company, 1983;hal.31-42.
Osol. A. Remington's Pharmaceutical Sciences, Pennsylvania:Mack Publishing Co., 1980;hal. 1278.
Tropical Disease Research Foundation, Inc. Guidelines on Anti-microbial Therapy, 1st ed.,Manila, 1988;hal 88-9.